Selasa, 09 Januari 2018

Semoga saja

2009 Blog ini dibuat, berarti sudah hampir 9 tahun yah? Kindof...

lucu melihat ke belakang, post post awal. Bener - bener kos budak. Hahahaha. Tapi itulah manusia, merasa sudah dewasa, merasa sudah berilmu, merasa sudah jauh, merasa sudah mapan. Merasa sudah yang membuat manusia berhenti belajar, berhenti bertualang, berhenti memperluas wawasan.
Jadi 2018 ini haruslah berhenti "merasa sudah (cukup)", apalagi merasa lebih baik.

Udah bawaan orok kali yah, selalu diajari berkompetisi. Kuliah harus cumlaude, SMA harus ranking, SMP harus juara umum, SD selalu 5 besar, TK bahkan harus duluan kalo lomba lari, baru lahir aja saingan siapa nangis paling keras.

Ternyata sudah punya anak bini, life's about supporting each other. Tidak selalu berkompetisi. Mungkin iya, berusaha yang paling banyak hapalan Quran, berusaha yang paling banyak sedekahnya, bukan yang paling banyak dapet duitnya.

Umur sudah mau 30, belajar menatap ke depan, tapi kenapa selalu ada masa lalu tertinggal. Masa iya gak ikhlas sudah punya dua anak cantik? bini juga gak kalah cantik, hahaha. Tapi paling baik, jual tas buat bayar listrik :D

Jalani hari ini, akhir hidup dan akhir dunia hanya menghitung jari saja. Apakah sudah lupa? berasa 2006 kemarin saja? lulus SMA dan masuk kuliah. Masih kuat di ingatan bagaimana Ospek SMP tahun 2000, sekarang sudah punya anak dua. Itulah dunia, waktu tidak terasa, kata Rasulullah pun dunia sekejap saja, hitungan akhirat hanya 1,5 jam saja (60 tahun dunia) sudah masuk kubur.

Benar - benar sekejap.
Sekejap saja bahagia ini
Sekejap saja senyum ini
Sekejap saja tawa ini
Sekejap saja gelisah ini
Sekejap saja sedih ini
Sekejap saja cerita ini
Sekejap saja hidup ini

Untuk yang selamanya
selamanya sengsara
atau selamanya senang

Semoga....

Selasa, 26 Desember 2017

This 2017 is going to end, and this is the first (probably the last) post I made in this blog.

If you (anyone) who ever read this, READ! (iqra) 
Smartphone makes you dumb!

I remember the day I read lots of books! now my brain is numb.

2017 is gonna be a history soon
2018 is coming

And Im not kidding, the end of the world is only a matter of months
welcoming the armageddon.

Im talking to you ILLUMINATI, we are not afraid.

See ya!

Selasa, 12 Juli 2016

(hardly) moving on

Pasti ada yang salah, sudah pulang itikaf sepuluh hari sudah berlalu ramadhan. Bukan bermaksud riya, tapi memang indah masa dimana quran menjadi teman. Rasanya hadits yg mengatakan bahwa quran yang akan menemani kita di dalam kubur membuat saya sedikit bahagia bisa membacanya. Susunan kalimat dalam 114 surat yang dikirim Yang Maha Penyayang kepada makhluknya.

Hari ini juli 2016, umur saya sudah hampir 28 tahun. 28 tahun saya menginjak dunia ini, 28 tahun saya menghirup oksigen bumi ini, 28 tahun memori mengisi otak dan cerita saya di dunia ini. Dunia yg tidak abadi ini, yang padahal di hadapan Sang Maha Agung saya hanya beberapa jam saja di dunia, karena satu hari di akhirat. 1000 tahun di dunia. Bayangkan kita hanya diberi waktu hidup tidak sampai 100 tahun.

28 tahun juga sudah berbagai macam kenangan dan cerita, namun hari ini. Entah mengapa, pikiran ini membawa saya ke masa lalu. Banyak sebetulnya yg saya sesali, dan obat sedih, gundah, gelisah, saat ini hanya doa dan tilawah. Kertas quran yg basah mudah2n menjadi saksi bahwa jika saya sedih, maka Surat CintaNya lah obatnya.

Masa lalu yg saya sesali adalah banyaknya perbuatan sia - sia yang saya kerjakan. Padahal saat itu jika saya bisa memotivasi diri saya mungkin saya akan jadi seniman? Pelukis? Musisi? Sesuai hobi saya saat itu. Atau mungkin mendapatkan beasiswa ke luar negeri? Atau mendapatkan penghargaan murid teladan? Karena saya bukan orang bodoh, cuma kadang kesenangan sementara bikin manusia malas dan banyak melakukan perbuatan tidak bermanfaat.

Masih jelas temperatur subuh di tahun 2000 atau malam ramai di tahun 2003, atau terpaan angin di wajah saat naik angkutan umum yg penuh di tahun 2004. Saya juga masih ingat suara midi SEGA yang seringkali saya mainkan sepulang sekolah, atau handphone monophonic yang bisa menjadi bahan lelucon saat habiskan waktu bersama teman.

Rumput basah saat saya jatuh bermain bola dari SD hingga SMP, berisiknya tempat rental PS1 yang booming saat saya SMP, atau tawa lepas karena kebodohan musuh saat main LAN Game Counter Strike.

Saya masih ingat emosinya, sedih senangnya, aromanya, musik yg mengiringnya, kawan yang ada di samping saya. Saya masih ingat nyerinya dislokasi sendi karena skateboard, masih ingat senangnya saat pertama kali mampu membelinya. Tahun 2002 saat itu harga skateboard masih Rp. 105.000,-.

Saat - saat senang ke masjid, berebut adzan dengan remaja yang lain, menangis saat taklim, candaan kepada teman yg sulit membaca hadis, dan habiskan waktu itikaf dengan bermain NGage :p.

Memori itu tiba2 kembali pagi ini, menyesakkan dada, memberi kerinduan pada masa lalu, pada teman - temanku. Mereka mmg masih ada, sama dengan saya sudah sibuk merawat anak yang lucu2. Saya rindu Aulia, doa saya semoga dia sedang di Surga. Sy masih ingat berita kecelakaanya, dan penundaan saya "besok saya akan jenguk" ternyata umur-mu kawan tidak sampai di "besok". Nanti kita minta sama Allah ya U, boleh gak maen skateboard atau latihan Kempo di Surga?

Dunia ini terasa sekali fananya, masih kuat ingatan saya saya baru pertama masuk SDN Panaragan 1 hari ini saya sudah berpikir anak saya akan masuk sekolah. Sekarang hari - hari saya diwarnai dengan tawa dua perempuan cantik. Yang satu tertawa karena lelucon saya, yang satu memang hobi tertawa.

Ya Allah, dunia ini sementara. Hanya kekuatan dari Mu yang menyanggupi aku menyelesaikannya. Kembali kepada engkau adalah sebuah kerinduan besar. Susah sedihku di dunia, hanya bisa mengadu kepada Engkau.

Yang aku tahu ya Allah, tidak ada kegundahan lagi setelah menatap wajah Engkau di Surga sana.

La illaha illa anta subhaanaka inni kuntum minazh zhaalimiin

Selasa, 29 September 2015

Aku bukan orang sembarangan

Besar sekali penyesalan malam ini, bukan karena kemungkinan tulangku yang retak memukul lemari. Aku menyakiti (lagi) jiwa yang sudah berkomitmen ada hingga aku mati.

Jika kita ingat masa - masa itu, saat mulai mencintaimu. Saat aku memuliakanmu dengan tidak berani menyentuhmu, hingga saat ini aku bisa memelukmu menjadi surga duniaku. Tertawa memandangi tersenyumnya putri kita saat tidur.

Aku demi Dzat yang menggenggam jiwaku, tidak permah berhenti jatuh hati pada dirimu. Namun terkadang kelelahanku memunculkan egoku. Dulu internet itu mendekatkan kita, jangan sekarang memberi jarak kepada kita.

Aku tidak sedang menasehatimu, aku mengatakan itu pada diriku sendiri yang melalui cermin yang berserakan karena aku pukul.

Aku rindu masa itu, bisa menyenangkanmu dengan candaku. Sekarang sudah tidak seperti dulu, namun tentu saja aku lebih bahagia. Bisa menyambut pagimu dengan kecupan, memelukmu melalui malam.

Aku bukan orang sembarangan, aku percaya itu. Namun tahun - tahun ini mengikis percaya diriku. Dulu kesulitan melecut semangatku, sekarang aku lebih banyak takutnya. Kelelahan adalah sahabatku, sekarang malah bisa merusak warna hariku.

Mungkin karena dulu aku masih muda, sekarang aku tak tahu apa dan siapa. Ingin aku tegak lagi, kau yang mendukungku disana. Meluruskan punggungku, dengan keajaiban senyummu saja. Aku tidak perlu kekuatan lengan atau tungkaimu, cukup pandangan sejukmu.

Entah kenapa kadang aku merasa terhina, aku iri pada dunia. Aku ingat tahun - tahun itu bumi tidak berpihak padaku, dan sekarang dia mulai lagi. Namun aku yakin pasti bisa mengalahkannya. Menaruhnya lagi di bawah kakiku, dalam genggamanku.

Itu karena aku bukan orang sembarangan, karena cinta keluargaku, terutama kamu. Istriku

Rabu, 11 Maret 2015

‎Hello blog, new posts are coming. See you soon!