Sabtu, 22 Agustus 2009

Aku Seorang yang Pelit

Aku orang yang sulit meminjamkan kendaraanku, karena aku jarang menyempatkan diri untuk merawatnya dan khawatir akan ketidaknyamanan dari orang yang meminjam..

Aku orang yang tidak bisa meminjamkan uang, bagiku lebih baik memberi walau sedikit karena aku khawatir akan keharmonisan yang telah kita jalin hanya karena masalah uang yang harus dikembalikan..

Aku orang yang tidak terbiasa diminta sedikit waktunya, bagiku lebih baik memberi banyak waktu yang aku punya daripada diasumsikan orang yang penting dan merasa dibutuhkan..

Aku orang yang yang tidak akan memberi jawaban saat ujian, karena bagiku lebih baik mengajarkan apa yang harus kawanku tahu dari yang aku sudah tahu dan yang aku mampu berikan, lebih dari sekedar nilai yang ingin dia dapatkan..

Aku "mungkin" sulit untuk diminta menjadi kekasih setelah apa yang aku alami, namun aku bisa menjadi teman, yang setia untuk tempat kawanku berbagi, dan selamanya nama kawan terpatri dalam hatiku sebagai seorang 'Teman'..

Aku tidak akan menghabiskan sedikitpun waktu dalam sisa hidupku untuk menjadi seorang yang sempurna, tetapi aku akan habiskan banyak waktuku untuk belajar menjadi orang yang mendekati sempurna dalam akhlak dan perilaku..

*Alhamdulillahi kama hasanta kholqi fahasana khuluqi - Segala puji bagi Allah yang telah memberikan aku rupa yang baik, maka baikanlah juga akhlakku*

-Doa bercermin-

Sabtu, 08 Agustus 2009

Wooden plate

Suatu ketika, ada seorang kakek yang harus tinggal dengan anaknya. Selain itu, tinggal pula menantu, dan anak mereka yang berusia 6 tahun. Tangan orangtua ini begitu rapuh, dan sering bergerak tak menentu. Penglihatannya buram, dan cara berjalannya pun ringkih. Keluarga itu biasa makan bersama di ruang makan. Namun, sang orangtua yang pikun ini sering mengacaukan segalanya. Tangannya yang bergetar dan mata yang rabun, membuatnya susah untuk menyantap makanan. Sendok dan garpu kerap jatuh ke bawah. Saat si kakek meraih gelas, segera saja susu itu tumpah membasahi taplak.

Anak dan menantunya pun menjadi gusar. Mereka merasa direpotkan dengan semua ini. “Kita harus lakukan sesuatu, ” ujar sang suami. “Aku sudah bosan membereskan semuanya untuk pak tua ini.” Lalu, kedua suami-istri ini pun membuatkan sebuah meja kecil di sudut ruangan. Disana, sang kakek akan duduk untuk makan sendirian, saat semuanya menyantap makanan. Karena sering memecahkan piring, keduanya juga memberikan mangkuk kayu untuk si kakek.

Sering, saat keluarga itu sibuk dengan makan malam mereka, terdengar isak sedih dari sudut ruangan. Ada airmata yang tampak mengalir dari gurat keriput si kakek. Namun, kata yang keluar dari suami-istri ini selalu omelan agar ia tak menjatuhkan makanan lagi. Anak mereka yang berusia 6 tahun memandangi semua dalam diam.

Suatu malam, sebelum tidur, sang ayah memperhatikan anaknya yang sedang memainkan mainan kayu. Dengan lembut ditanyalah anak itu. “Kamu sedang membuat apa?”. Anaknya menjawab, “Aku sedang membuat meja kayu buat ayah dan ibu untuk makan saatku besar nanti. Nanti, akan kuletakkan di sudut itu, dekat tempat kakek biasa makan.” Anak itu tersenyum dan melanjutkan pekerjaannya.

Jawaban itu membuat kedua orangtuanya begitu sedih dan terpukul. Mereka tak mampu berkata-kata lagi. Lalu, airmatapun mulai bergulir dari kedua pipi mereka. Walau tak ada kata-kata yang terucap, kedua orangtua ini mengerti, ada sesuatu yang harus diperbaiki. Malam itu, mereka menuntun tangan si kakek untuk kembali makan bersama di meja makan. Tak ada lagi omelan yang keluar saat ada piring yang jatuh, makanan yang tumpah atau taplak yang ternoda. Kini, mereka bisa makan bersama lagi di meja utama.
~Author Unknown
***
Sahabat, anak-anak adalah persepsi dari kita. Mata mereka akan selalu mengamati, telinga mereka akan selalu menyimak, dan pikiran mereka akan selalu mencerna setiap hal yang kita lakukan. Mereka ada peniru. Jika mereka melihat kita memperlakukan orang lain dengan sopan, hal itu pula yang akan dilakukan oleh mereka saat dewasa kelak. Orangtua yang bijak, akan selalu menyadari, setiap “bangunan jiwa” yang disusun, adalah pondasi yang kekal buat masa depan anak-anak.

Mari, susunlah bangunan itu dengan bijak. Untuk anak-anak kita, untuk masa depan kita, untuk semuanya. Sebab, untuk mereka lah kita akan selalu belajar, bahwa berbuat baik pada orang lain, adalah sama halnya dengan tabungan masa depan.

Heart and Luxury..

Mahluk yang paling menakjubkan adalah manusia, karena dia bisa memilih untuk menjadi “setan atau malaikat”.
–John Scheffer-

Dari pinggir kaca nako, di antara celah kain gorden, saya melihat lelaki itu mondar-mandir di depan rumah. Matanya berkali-kali melihat ke rumah saya. Tangannya yang dimasukkan ke saku celana, sesekali mengelap keringat di keningnya.

Dada saya berdebar menyaksikannya. Apa maksud remaja yang bisa jadi umurnya tak jauh dengan anak sulung saya yang baru kelas 2 SMU itu? Melihat tingkah lakunya yang gelisah, tidakkah dia punya maksud buruk dengan keluarga saya? Mau merampok? Bukankah sekarang ini orang merampok tidak lagi mengenal waktu? Siang hari saat orang-orang lalu-lalang pun penodong bisa beraksi, seperti yang banyak diberitakan koran. Atau dia punya masalah dengan Yudi, anak saya?

Kenakalan remaja saat ini tidak lagi enteng. Tawuran telah menjadikan puluhan remaja meninggal. Saya berdoa semoga lamunan itu salah semua. Tapi mengingat peristiwa buruk itu bisa saja terjadi, saya mengunci seluruh pintu dan jendela rumah. Di rumah ini, pukul sepuluh pagi seperti ini, saya hanya seorang diri. Kang Yayan, suami saya, ke kantor. Yudi sekolah, Yuni yang sekolah sore pergi les Inggris, dan Bi Nia sudah seminggu tidak masuk.

Jadi kalau lelaki yang selalu memperhatikan rumah saya itu menodong, saya bisa apa? Pintu pagar rumah memang terbuka. Siapa saja bisa masuk.

Tapi mengapa anak muda itu tidak juga masuk? Tidakkah dia menunggu sampai tidak ada orang yang memergoki? Saya sedikit lega saat anak muda itu berdiri di samping tiang telepon. Saya punya pikiran lain. Mungkin dia sedang menunggu seseorang, pacarnya, temannya, adiknya, atau siapa saja yang janjian untuk bertemu di tiang telepon itu. Saya memang tidak mesti berburuk sangka seperti tadi. Tapi dizaman ini, dengan peristiwa-peristiwa buruk, tenggang rasa yang semakin menghilang, tidakkah rasa curiga lebih baik daripada lengah?

Saya masih tidak beranjak dari persembunyian, di antara kain gorden, di samping kaca nako. Saya masih was-was karena anak muda itu sesekali masih melihat ke rumah. Apa maksudnya? Ah, bukankah banyak pertanyaan di dunia ini yang tidak ada jawabannya.

Terlintas di pikiran saya untuk menelepon tetangga. Tapi saya takut jadi ramai. Bisa-bisa penduduk se-kompleks mendatangi anak muda itu. Iya kalau anak itu ditanya-tanya secara baik, coba kalau belum apa-apa ada yang memukul.

Tiba-tiba anak muda itu membalikkan badan dan masuk ke halaman rumah. Debaran jantung saya mengencang kembali. Saya memang mengidap penyakit jantung. Tekad saya untuk menelepon tetangga sudah bulat, tapi kaki saya tidak bisa melangkah. Apalagi begitu anak muda itu mendekat, saya ingat, saya pernah melihatnya dan punya pengalaman buruk dengannya. Tapi anak muda itu tidak lama di teras rumah. Dia hanya memasukkan sesuatu ke celah di atas pintu dan bergegas pergi. Saya masih belum bisa mengambil benda itu karena kaki saya masih lemas.

Saya pernah melihat anak muda yang gelisah itu di jembatan penyeberangan, entah seminggu atau dua minggu yang lalu. Saya pulang membeli bumbu kue waktu itu. Tiba-tiba di atas jembatan penyeberangan, saya ada yang menabrak, saya hampir jatuh. Si penabrak yang tidak lain adalah anak muda yang gelisah dan mondar-mandir di depan rumah itu, meminta maaf dan bergegas mendahului saya. Saya jengkel, apalagi begitu sampai di rumah saya tahu dompet yang disimpan di kantong plastik, disatukan dengan bumbu kue, telah raib.

Dan hari ini, lelaki yang gelisah dan si penabrak yang mencopet itu, mengembalikan dompet saya lewat celah di atas pintu. Setelah saya periksa, uang tiga ratus ribu lebih, cincin emas yang selalu saya simpan di dompet bila bepergian, dan surat-surat penting, tidak ada yang berkurang.

Lama saya melihat dompet itu dan melamun. Seperti dalam dongeng. Seorang anak muda yang gelisah, yang siapa pun saya pikir akan mencurigainya, dalam situasi perekonomian yang morat-marit seperti ini, mengembalikan uang yang telah digenggamnya. Bukankah itu ajaib, seperti dalam dongeng. Atau hidup ini memang tak lebih dari sebuah dongengan?

Bersama dompet yang dimasukkan ke kantong plastik hitam itu saya menemukan surat yang dilipat tidak rapi. Saya baca surat yang berhari-hari kemudian tidak lepas dari pikiran dan hati saya itu. Isinya seperti ini:

—–

“Ibu yang baik…, maafkan saya telah mengambil dompet Ibu. Tadinya saya mau mengembalikan dompet Ibu saja, tapi saya tidak punya tempat untuk mengadu, maka saya tulis surat ini, semoga Ibu mau membacanya.

Sudah tiga bulan saya berhenti sekolah. Bapak saya di-PHK dan tidak mampu membayar uang SPP yang berbulan-bulan sudah nunggak, membeli alat-alat sekolah dan memberi ongkos. Karena kemampuan keluarga yang minim itu saya berpikir tidak apa-apa saya sekolah sampai kelas 2 STM saja. Tapi yang membuat saya sakit hati, Bapak kemudian sering mabuk dan judi buntut yang beredar sembunyi-sembunyi itu.

Adik saya yang tiga orang, semuanya keluar sekolah. Emak berjualan goreng-gorengan yang dititipkan di warung-warung. Adik-adik saya membantu mengantarkannya. Saya berjualan koran, membantu-bantu untuk beli beras.

Saya sadar, kalau keadaan seperti ini, saya harus berjuang lebih keras. Saya mau melakukannya. Dari pagi sampai malam saya bekerja. Tidak saja jualan koran, saya juga membantu nyuci piring di warung nasi dan kadang (sambil hiburan) saya ngamen. Tapi uang yang pas-pasan itu (Emak sering gagal belajar menabung dan saya maklum), masih juga diminta Bapak untuk memasang judi kupon gelap. Bilangnya nanti juga diganti kalau angka tebakannya tepat. Selama ini belum pernah tebakan Bapak tepat. Lagi pula Emak yang taat beribadah itu tidak akan mau menerima uang dari hasil judi, saya yakin itu.

Ketika Bapak semakin sering meminta uang kepada Emak, kadang sambil marah-marah dan memukul, saya tidak kuat untuk diam. Saya mengusir Bapak. Dan begitu Bapak memukul, saya membalasnya sampai Bapak terjatuh-jatuh. Emak memarahi saya sebagai anak laknat. Saya sakit hati. Saya bingung. Mesti bagaimana saya?

Saat Emak sakit dan Bapak semakin menjadi dengan judi buntutnya, sakit hati saya semakin menggumpal, tapi saya tidak tahu sakit hati oleh siapa. Hanya untuk membawa Emak ke dokter saja saya tidak sanggup. Bapak yang semakin sering tidur entah di mana, tidak perduli. Hampir saya memukulnya lagi.

Di jalan, saat saya jualan koran, saya sering merasa punya dendam yang besar tapi tidak tahu dendam oleh siapa dan karena apa. Emak tidak bisa ke dokter. Tapi orang lain bisa dengan mobil mewah melenggang begitu saja di depan saya, sesekali bertelepon dengan handphone. Dan di seberang stopan itu, di warung jajan bertingkat, orang-orang mengeluarkan ratusan ribu untuk sekali makan.

Maka tekad saya, Emak harus ke dokter. Karena dari jualan koran tidak cukup, saya merencanakan untuk mencopet. Berhari-hari saya mengikuti bus kota, tapi saya tidak pernah berani menggerayangi saku orang. Keringat dingin malah membasahi baju. Saya gagal jadi pencopet.

Dan begitu saya melihat orang-orang belanja di toko, saya melihat Ibu memasukkan dompet ke kantong plastik. Maka saya ikuti Ibu. Di atas jembatan penyeberangan, saya pura-pura menabrak Ibu dan cepat mengambil dompet. Saya gembira ketika mendapatkan uang 300 ribu lebih.

Saya segera mendatangi Emak dan mengajaknya ke dokter. Tapi Ibu…, Emak malah menatap saya tajam. Dia menanyakan, dari mana saya dapat uang. Saya sebenarnya ingin mengatakan bahwa itu tabungan saya, atau meminjam dari teman. Tapi saya tidak bisa berbohong. Saya mengatakan sejujurnya, Emak mengalihkan pandangannya begitu saya selesai bercerita.

Di pipi keriputnya mengalir butir-butir air. Emak menangis. Ibu…, tidak pernah saya merasakan kebingungan seperti ini. Saya ingin berteriak. Sekeras-kerasnya. Sepuas-puasnya. Dengan uang 300 ribu lebih sebenarnya saya bisa makan-makan, mabuk, hura-hura. Tidak apa saya jadi pencuri. Tidak perduli dengan Ibu, dengan orang-orang yang kehilangan. Karena orang-orang pun tidak perduli kepada saya. Tapi saya tidak bisa melakukannya. Saya harus mengembalikan dompet Ibu. Maaf.”

—–

Surat tanpa tanda tangan itu berulang kali saya baca. Berhari-hari saya mencari-cari anak muda yang bingung dan gelisah itu. Di setiap stopan tempat puluhan anak-anak berdagang dan mengamen. Dalam bus-bus kota. Di taman-taman. Tapi anak muda itu tidak pernah kelihatan lagi. Siapapun yang berada di stopan, tidak mengenal anak muda itu ketika saya menanyakannya.

Lelah mencari, di bawah pohon rindang, saya membaca dan membaca lagi surat dari pencopet itu. Surat sederhana itu membuat saya tidak tenang. Ada sesuatu yang mempengaruhi pikiran dan perasaan saya. Saya tidak lagi silau dengan segala kemewahan. Ketika Kang Yayan membawa hadiah-hadiah istimewa sepulang kunjungannya ke luar kota, saya tidak segembira biasanya.Saya malah mengusulkan oleh-oleh yang biasa saja.

Kang Yayan dan kedua anak saya mungkin aneh dengan sikap saya akhir-akhir ini. Tapi mau bagaimana, hati saya tidak bisa lagi menikmati kemewahan. Tidak ada lagi keinginan saya untuk makan di tempat-tempat yang harganya ratusan ribu sekali makan, baju-baju merk terkenal seharga jutaan, dan sebagainya.

Saya menolaknya meski Kang Yayan bilang tidak apa sekali-sekali. Saat saya ulang tahun, Kang Yayan menawarkan untuk merayakan di mana saja. Tapi saya ingin memasak di rumah, membuat makanan, dengan tangan saya sendiri. Dan siangnya, dengan dibantu Bi Nia, lebih seratus bungkus nasi saya bikin. Diantar Kang Yayan dan kedua anak saya, nasi-nasi bungkus dibagikan kepada para pengemis, para pedagang asongan dan pengamen yang banyak di setiap stopan.

Di stopan terakhir yang kami kunjungi, saya mengajak Kang Yayan dan kedua anak saya untuk makan bersama. Diam-diam air mata mengalir dimata saya.

Yuni menghampiri saya dan bilang, “Mama, saya bangga jadi anak Mama.” Dan saya ingin menjadi Mama bagi ribuan anak-anak lainnya.

Namanya Joseph

Malam tahun baru waktu itu gw habisin di Seminyak Bali, di Bar tempat gw kerja sebagai akuntan sementara. Cuma sekitar 5 hari gw kerja disitu untuk membangun system Laporan Keuangan yang seterusnya bakalan dikerjain boss gw yang disana, supaya dia bisa minimalisasi biaya tenaga kerja.

Selama gw kerja, gw lbh banyak habisin waktu gw di ruangan kerja gw, bahkan gw sengaja nolak hotel bintang 4 dan lebih milih gelar kasur deket meja computer. Sebenernya, penolakan gw bukan tanpa alasan. Gw bener – bener cari safety untuk jalanin hidup gw yang lima hari disana. Kenapa? Karena tempat gw kerja adalah sebuah Bar, Gay Bar. J

Waktu itu gw nyampe Bali jam 2.30 pagi waktu setempat. Gw langsung dijemput boss gw di bandara and langsung meluncur ke Bar yang baru aja dibuka kira – kira tiga hari. Dan disinilah gw yang sempet shock abies, gak nyangka kalo ternyata tempat yang gw datengin tuh begini banget. Beuh..! berhubung itu Gay Bar, so mayoritas yang nongkrong disitu adalah Gay, termasuk boss gw bule dari UK. Tentu saja, sebagai seorang pekerja baru gw dikenalin ama customer – customer disitu. Gila, gw bener2 tau gmn rasanya jadi perempuan, tuh cowo – cowo ngeliatin gw dari ujung rambut ampe ujung kaki gw, bukan ge-er, tapi gw ngeri, berasa mau dimakan. :-p

“Do u wanna get some drink Dhika?” boss gw buka percakapan disitu. “No, thanks Sir. Think I need some rest, Im having a jet leg” canda gw. “hahaha, it spent only an hour from Jakarta to here, how come u get s silly jet leg? Ok then, you can now go to the Hotel to get some rest if you don’t want to join our party here. Here’s some money for your breakfast tomorrow. You can call me after breakfast and I’ll pick you up tomorrow in hotel and now Ojie will accompany you to the hotel.” Lanjutnya menjelaskan. So berangkatlah gw dengan dianter cowo yang setipe dengan mereka ke hotel, sialnya tuh cowo lagi mabok. “maaf ya aku agak mabuk ni, tapi sadar kok” tanpa diminta dia jelasin keadaan dia. “klo gak bisa nyetir, saya cari taksi aja mas” gw bilang. “ah gak apa – apa deket kok hotelnya dari sini”, jawab dia. So gw Cuma bisa berdoa mudah – mudahan gak akan terjadi kecelakaan yang gak gw inginkan. :p

Sesampainya gw di hotel, tiba – tiba gw terjangkit rasa takut yang gak beralasan. Langsung deh tuh gw sholat, apa yang terjadi barusan gw bener – bener gak percaya. Mereka pecinta sesame jenis, n selama lima hari ke depan gw bakalan abisin waktu ama mereka. L Please God, show me your protection, your guidance. Doa gw saat sholat, ampe akhirnya gw putuskan untuk tidur karena emang capek banget. Esok harinya setelah gw sarapan n bertemu dgn Boss gw, gw minta untuk tidur di kantor aja, gak usah balik lagi ke Hotel. Dia sih mempersilahkan, walau dia gak yakin klo gw bisa ngerasa nyaman. Entah kenapa gw pikir klo di hotel bakalan ribet buat gw bulak – balik, dijemput sana sini, and ternyata, bahkan pada malam pertama, gw gak sendirian di paviliun hotel itu. Beberapa temen boss gw yang notabene seperti itu juga ikut tinggal disitu. So, gelar kasur di kantor yang klo malam sepenuhnya jadi milik gw, adalah sebuah keputusan terbaik.

Singkat cerita, sampailah gw pada malam tahun baru yang gw ceritain. Ini bakalan jadi malam terakhir gw di Bali, karena esok paginya tanggal 1 January, gw bakalan balik ke Bogor. Sebelum masuk malem, semua kerjaan gw udah gw selesain., gw pengen abisin malam ini dengan party or something yang bakal biking gw refresh dari angka dan bukti – bukti pembayaran yang bikin iritasi mata n otak gw. Setelah abisin 3 hari 3 malem disini, asumsi mengerikan gw tentang makhluk penyuka sesama jenis itu perlahan – lahan ilang. Bahkan beberapa dari mereka bersifat lebih kaya perempuan, so gak ada alasan buat gw untuk takut. :-D. Selama gw ngisi waktu di Bali itu, gw lebih sering browsing, baca majalah, and jalan – jalan sendiri. Walau ada suatu saat keponakan boss gw yang cw datang, n dia minta gw temenin belanja, jadi saat itu gw gak sendirian keliling Bali. Saat gw baca majalah, gw liat disitu ada artikel tentang kehidupan para penyuka sesama jenis, dari situ juga gw tau cara berpakaian mereka. Umumnya mereka tuh selalu mencukur pendek rambut mereka, jadi jarang banget ada dari mereka yang berambut gondrong, biasanya klo gak cepak, mereka seneng banget model rambut spikey dgn Gel rambut yang banyak jadi keliatan mengkilat abies. Klo mereka pake kaos selalu ketat n berwarna terang, klo pake kemeja tangan panjang, mereka pasti gulung lengannya hingga siku. Celana cut bray ato bray cut sama aja, yang pasti sepatunya pantopel yang ujungnya lancip abis n ‘gak’ berwarna hitam. Trus, umumnya pake parfum yang baunya tajem, jadi banyak juga yang pake parfum perempuan. Itu menurut artikel yg gw baca. So. Timbullah niat iseng gw, gw pake kemeja item gw dengan garis horizontal warna emas yang ngetat, lengannya gw gulung ampe siku. Rambut sih gw biarin aja begitu, ikal gondrong, paling gw sisir aja sedikit supaya keliatan udah mandi. Gw pake jeans normal gw, dengan sepatu kets gw yang umum plus minyak wangi Pierre Cardin yang baunya normal ajah.

Di Bar Gw cuma pesen Cola ama Jus Jeruk aja karena gw gak suka minum minuman beralkohol, walau beberapa dari waitressnya + temen – temen gw nawarin gw minuman alcohol. Bahkan dengan sedikit memaksa, “ayo minum darling, ini Cuma susu + soda kok” paksa mereka. “wah gak deh makasih, gw minum ini aja” tolak gw. Gw tau banget dari baunya tuh minuman gak beres, daripada kenapa – napa, gw gak sadar diri di tempat begitu?! Repot dah. Mending cari aman aja. Beberapa dari customer disitu ngajakin gw buat dance bareng, but I refused gently, gw yang tadinya duduk agak diluar masuk ke dalem, lebih dekat ke Bartender. Dan di malam tahun baru itu, bakal ada acara special, yaitu penampilan para “Jane” (panggilan untuk mereka yang berperan sebagai perempuan or “banci” bahasa kasarnya) menari di atas Bar. Gw duduk deket situ sendirian sambil ngisep rokok Marlboro gw, klo gak ada hal lain yang gw kerjain, gw lebih milih ngisep rokok daripada keliatan dongo Cuma duduk n minum cola. Beberapa dari orang disitu ngeliatin gw dengan pandangan yang gw pikir gak biasa, tapi yah gw coba berpikir aja klo gw tuh Cuma ge-er. Dari situ ada seorang yang berperawakan tinggi, gemuk, dari parasnya sih gw mengira dia lebih dari 40th, nyamperin gw.

“what a nice place isn’t it?” dia buka pembicaraan. “yeah rite, here’s more crowded than others” jawab gw, omongan gw pun gak asal2an, bisa diliat klo Bar ini emang paling banyak pengunjungnya, so klo jalan pun harus nyempil2, seperti yg udah dilakuin si bapak2 ini saat nyamperin gw. “ what are you drinking?” tanyanya lagi buat kurangin kekakuan. Perlu pembaca ketahui, setiap kita bicara, mulut kita tuh harus ngedeketin kuping lawan bicara kita, karena itulah gw bisa ngerasain nafas tu orang di leher gw and bau alkoholnya. “its just a cola” jawab gw sekedarnya. “y don’t you drink any beer or wine? I can buy it for you” to the point banget ni orang langsung mau traktir gw minum. “no thanks, I don’t drink alcohol. And anyway Im working here, so I can get any drink for free” jawab gw dengan melempar senyum. “oh, you work here? Nice... who’s your boss anyway, I never know who’s owning this place” katanya. “there he is” jawab gw, sambil nunjuk boss gw yang lagi ngobrol ama salah satu temannya. “Oh, that is why I really often to see him stay here. Anyway, my name is Joseph”. “Im Dhika, glad to see you”. Dari perkenalan itu kemudian gw tau klo dia orang Jerman. Kita ngobrol banyak, dari dia yang cerita suka pusing klo minum terlalu banyak, and pengalamannya di negara2 orang, Tanya tentang gw, apa di Jakarta or di bogor ada Gay Bar macem gini. Sampe akhirnya dia Tanya tentang gw di Bali.

“where do you live here Dhika?”.

“My Villa right behind this building, I also work there to set all the financial report for my boss” kata gw menjelaskan klo vila itu kantor gw juga.

“are you coming to Bali by yourself?”

“yes” jawab gw.

“ you also live by yourself in that villa?”

“no, My boss also stay there” jawab gw, and bingung juga kenapa tuh orang sampe Tanya begitu.

“well Dhika, I love Indonesia and Indonesian, but most of them seem unkind. They might be kind, but sometimes is hard for me to communicate with them. But you’re different, you’re so open minded, kind, polite, and I like the way you speaking English” kata dia tiba2 memuji.

“Thank you Sir. I can tell you if Indonesian are so kind, but perhaps they were just shy, they perhaps could speak English, but its gonna hard for them to expressed what they were thinking when they directly facing bule, it made them so nervous” kata gw sekenanya, bahkan dengan grammar yang entah bener ato gak, karena itu gw heran dia bisa muji bahasa inggris gw.

“well, maybe you right.. anyway Dhika. Do you have time we can go around together?” beuh, shock gw ditanya gitu..gw jawab, “Sorry, but I’ll be home by tomorrow afternoon”. “So how about tonight? At your place or mine?”. Yg ini gw bingung jawabnya, gw bilang aja “um, actually.. I prefer to stay here all night long”.

“waw okay if you cannot, Im sorry to ask about this. You’re Gay aint u?” akhirnya dia ragu juga, so dia Tanya gw untuk memastikan.

“I aint Gay Sir” jawab gw singkat + senyum.

“Oh okay, I can see if you’re Moslem” dia langsung tebak kesana.

“Yes, I Pray every Friday” Jawab gw lagi dengan nyengir.

Dari situ gw bisa liat air wajahnya berubah. Badannya yang tadinya selalu menghadap ke gw, dia putar menghadap ke arah Bar yang lagi ada “jane” menari.

“waw, he’s really look like a woman” gw buka percakapan lagi untuk hilangkan kekakuan.

“he’s a girl for me” jawab dia pendek, beda saat awal kita ngobrol dia cerewat abies.

Gak lama dia pamit untuk mampir ke Bar sebelah, dia bilang mau ketemu temannya, dan janji akan kembali setelah tahun baru. Tapi setelah lewat jam 12, gw putusin untuk pulang aja. Gw udah cukup dapet pengalamn unik malem itu, and udah gak ada alasan yang menarik lagi untuk gw tetap tinggal, apalagi melihat sesama jenis bercumbu sambil mengucapkan “happy new year honey”.

***

Kamis, 06 Agustus 2009

Money

"dhika, Money is only a number on a paper" replied my ex-Boss - who's now afford more than 27 mill for only a night from his Bar - on our way to Grand Hyatt for unofficial meeting. He said so because I teased him that he's now richer than ever in enourmous number.

I do know about this because I calculated his financial report when he asked me to become a temporary accountant at his Bar in Seminyak. I just only set a simple system so the report would be easier to made. I was so nervous when he suddenly asked me to go to Bali Immediatly to create a balance sheet for his brand new Bar. He informed in Saturday afternoon, and I fly straightly in Saturday midnight 11.24pm. I did always asked bout my hesitation to him, "Boss, Im afraid I cant statisfy you or cant work it out well", I said in bad grammar and spell from the phone. "I believe you can, many things you can do what we cannot" he convinced me.
When I finished my Job there, I asked his permite to get home rite away, of course I couldnt get home before I get paid. While he was passing me the receipt to be signed, he said "you've done well dhika, we loved the way you work". That was really the word I'd like to hear. It was not only mouth pieces to pleased me, few week after that day, he asked me to work there permanently, but I cant, I cant give up my lecture and my recent Job, even he promised to pay me more.

***

I really love the words he said, then it was temporary silent. Me, the Boss, and the Driver was figuring the words out by our selves. I did break the silent with added more words to it, "yes, and the Number shown on a money shows amount of Gold, not amount of Happiness" he was just smiling at me, replied nothing. Me as well, Smiling dunno where did I get those silly words.. :p