Jumat, 26 Februari 2010

Starting with the man in the mirror..

What a life.. kata yang gw pikir cukup mewakilkan dengan apa yang terjadi dalam kehidupan, gw, anda, dan orang di sekitar kita. Hidup tuh seperti sepotong gabus yang terapung di riak air kolam, atau mungkin juga di lautan lepas. Kadang tinggi di atas, kadang tenggelam di bawah. Ada kalanya juga smooth n simple seperti di selokan yang keruh, tergenang, n gak mengalir. Well, udah ngerti kalo hidup seperti itu dan tahu akan warna warninya, masih aja ada sikap mengeluh. Walau sebenernya gak ada alasan untuk itu. Kadang hasrat untuk mengeluh itu timbul karena kita kehilangan momen untuk menyempatkan diri melihat ke bawah, melihat kepada orang lain atau kondisi lain yang jauh lebih sulit dari yang sedang kita alami.

Bulan februari benar – benar menjadi bulan masalah finansial buat gw. Tepat setahun lalu, bulan februari juga menjadi bulan yang sangat kelam. Berasa langit tuh runtuh dan berwarna abu – abu. Tahun lalu adalah momen – momen masalah wanita yang gw harap dan gw usahakan hal itu gak akan terjadi lagi. Gw sempet berniat posting sebuah curhatan gw tentang februari tahun ini. Saking emosinya terhadap apa yang gw hadapi, gw ampe nyalahin banyak orang disitu. At last, udah habis 9 halaman Ms. Word dengan font 12, curhatan gw belum juga beres. Untungnya, banyaknya curhatan gw membuat gw mengulur waktu. Dan waktu, cukup memberi gw kesempatan untuk berpikir.

Gw urungkan niat gw untuk posting hal yang penuh keluhan itu, walau gw udah cukup banyak ngabisin waktu untuk membuat curhatan demek tersebut. Hahaha... sebagai gantinya ya posting ini aja, dimana gw dapet wangsit untuk bersyukut. Hehe.
Masalah finansial? Gw masih bisa makan 3 kali sehari tanpa kesulitan yang mungkin beberapa orang harus makan hari ini dan puasa esok harinya. Masalah finansial? Gw masih bisa mampir ke toko atau plaza dan membeli berdasarkan nafsu gw sedangkan orang lain masih menahan untuk membeli apa yang menjadi kebutuhannya. Masalah finansial? Gw masih bisa meneruskan sekolah gw sampe detik ini di universitas sedangkan beberapa orang terpaksa berhenti sebelum menyelesaikan sekolah dasarnya. Masalah finansial? Dimana gw masih tidur diatas kasur yang tingginya beberapa inchi dari lantai sedangkan orang lain masih belum punya rencana akan tidur dimana malam itu. Demi Allah dan RasulNya, selama ini apa yang jadi keluhan gw adalah hal yang gak pantas. Kalo gw inget kesana, gw lebih seperti seorang ABG yang bingung bagaimana menjadi seorang pengagum rahasia. Yang cuma bisa mengeluh, melihat yang dilakukan idolanya tanpa mau bertindak untuk menyelesaikan apa yang seharusnya dia lakukan untuk perasaanya.

So, the conclusion is.. *gaya hehehe.. Allah gak akan kasih kita ujian melebihi dari kemampuan kita. Pasti deh, apa yang terjadi, percaya aja dulu kita bisa melewatinya dengan cara apapun, segala yang terjadi adalah keputusan yang terbaik yang diberikan untuk hidup kita. Allah, mengenal diri kita lebih dari diri kita sendiri. Seorang ulama pernah berkata saat mengajar. ”untuk memperbaiki diri kita harus sering mengatakan hal yang mengajak kebaikan” dan secara ilmiah juga orang yang ’beres’ akan menyesuaikan perkataan dengan tindakannya. Jadi, ajarilah orang berbuat baik, sering – seringlah mengucapkan hal yang baik dan melihat apa yang salah dari diri kita untuk kita benahi. Yakinlah juga, bahwa kadang ada hambatan dalam meraih impian adalah pelajaran agar kita lebih bisa bersyukur saat mencapainya, dan kita dididik untuk menggunakan banyak cara yang halal dalam meraihnya. Gak hanya pencapaian yang smooth yang dengan satu tindakan impian kita tercapai dengan mulus. ”there are many ways to defeat the King in Human Chessboard”

*Apa yang gw bilang saat bercermin*