Sabtu, 31 Juli 2010

3 Anak Lucu dari temen kantor, By Request :)
Aslinya hasil jepretan Sukma Yudha..gw coba gambar aja.. :)

By Request, great Journalist and Music Experienced friend Indra Nugraha :)

Minggu, 25 Juli 2010


gambar muka sendiri2 buru... menurut gw yg ini lebih mirip dari sebelumnya.. :D

Sabtu, 24 Juli 2010


Galagher, Liam - I drew this while listening "stop crying your heart out" from Radio. I hope its not gonna disapoint OASIS lovers.. :p

Jumat, 23 Juli 2010


Buru2 banget gambarnya... BGnya ancur, n beberapa keanehan disana - sini..anyway not bad to be shared I think :p

Kamis, 22 Juli 2010

By the Time, by the Chat Box

"ndi, ngalamun wae sia teh" kata Anwar sambil menepuk kepala Randi dari belakang. "eh..gak kok, hehe" jawab Randi salah tingkah. Namun jawabannya sama sekali tidak sesuai dengan sikapnya, segera setelah menjawab sapaan Anwar dia kembali memalingkan wajahnya ke arah lain, ke arah dimana dia sebelumnya terpaku sehingga ditegur oleh temannya karena melamun. Di ujung pandangannya berdiri seorang perempuan remaja dengan seragam yang sewarna dengan dirinya. Perempuan itu lebih pendek dari dirinya, kulitnya coklat, matanya hitam, tidak sipit dan tidak juga besar, hidungnya mancung, bibirnya tipis, rambutnya diikat ekor kuda, pakaiannya tidak seperti remaja pada umumnya, agak longgar dan tidak menampilkan bentuk tubuhnya yang proporsional. Perempuan itu sedang bercakap – cakap dengan teman sebayanya. Beberapa saat dia tersenyum kecil, bahkan tertawa hingga terlihat giginya yang rapat dan terawat. Dia kelihatannya menikmati pembicaraannya dengan teman di hadapannya.


“ndi, hayu atuh kita jajan” ajak Anwar lagi membuyarkan lamunannya. “oh..iya” sekali lagi Randi terkejut karena melamun. Anwar kelihatannya tidak menghiraukan keadaan temannya yang jiwanya sedang tidak di dalam tubuhnya, jiwa yang sedang menikmati keindahan dari makhluk yang menurut empunya adalah masterpiece yang dibuat oleh Tuhan. Rasa lapar Anwar terlalu kuat untuk bisa membuat dia tidak mempedulikan tingkah temannya yang menurut dia cukup konyol.


Randi berjalan mengikuti Anwar, dia berjalan menjauhi perempuan yang menjadi objek dalam bingkai pandangan dan lamunannya. Sesekali Randi menoleh ke belakang, melihat ke arah perempuan itu sambil tetap berjalan mengikuti Anwar. Ada sedikit harapan dalam dirinya bahwa perempuan itu akan membalas pandangannya.


***


“Yang mana sih yang bikin Randi terbuai?” kata Rieka yang dijawab dengan tawa gaduh teman – temannya. “iya rik, si Randi Cuma bisa bengong sambil ngacai (meneteskan air liur), hahahaha” goda anwar lagi. “ah paan sih lu pada” Randi hanya bisa menjawab sekenanya. Mukanya kelihatan setengah kesal dan malu. “eh rik, yang itu tuh!” Anwar tiba – tiba menegakkan jari telunjuknya ke arah seorang perempuan yang berjalan ke arah mereka. “mana – mana?” temennya berebutan melihat perempuan itu. Mereka bersikap layaknya remaja seumuran mereka, senang menggoda teman mereka Randi yang bingung harus bersikap apa. Sepertinya degup jantung Randi membuat tubuhnya kaku dan bertindak lambat untuk bisa melakukan sesuatu ataupun berbicara menanggapi teman – temannya. “itu mah ade kelas gw waktu SMP!!” Rieka berbicara dengan volum suara mengalahkan kegaduhan teman – temannya. “siapa namanya Rik?” Tanya anwar. “namanya Romlah, hahahaha. Bukan deng, namanya Rianti, dia juara umum waktu SMP. Jadi gw tau dia”

“suruh si randi kenalan rik! Kasian tuh dia pengen bisa surat - suratan kali, mintain alamat rumahnya rik! Hahaha” Anwar menggoda lagi.

“yaudah ikut gw yuk” Rieka menarik tangan Randi, teman – temannya mendorong Randi dari belakang. “eh ngapain si, bete ah gw. Malesin banget sih lu semua!” kata Andi sambil berontak, tapi dekapan teman – temannya lebih kuat daripada tenaganya untuk melepaskan diri. “payah banget sih lu, Cuma bilang ‘hai, gw Randi’ gitu doank. Tuh, si Rianti udah masuk kelas". Kata Rieka memaksa. “Rik, gw serius gak berani” kata Randi jujur dengan wajah memelas. Teman – temannya makin keras menertawai sikap polosnya. Sedangkan Randi Cuma bisa memohon dengan wajah kelewat serius kepada Rieka yang masih menggenggam erat pergelangannya, dia tidak menyangka bahwa teman – temannya bisa tahu soal perasaannya karena awalnya dia terpana memandang Rianti. “ya udah, lu tunggu sini! Gw salamin aja ya?” kata Rieka sambil melepaskan pegangannya. Randi hanya bisa mengangguk mengiyakan. Ledakan perasaannya membuat dia bersikap sedikit pandir. Rieka meninggalkan teman – temannya dan masuk ke dalam kelas tempat belajar Rianti.


Tidak memakan waktu lama hingga Rieka muncul dari pintu kelas Rianti. Wajahnya menyunggingkan senyum karena senang sudah membuat kawannya malu setengah hidup, senang karena dia baru saja melakukan keisengan khas remaja. “udah gw salamin ndi” kata Rieka kepada Randi sambil berlalu. “trus dia bilang apa?” Anwar menanggapi pernyataan Rieka, mewakili teman – teman lainnya dan Randi yang penasaran tapi tidak bisa berkata apa - apa. Rieka berhenti sebentar, membalikan badannya kemudian berkata “katanya, dia gak mau kenalan udah suka sama orang lain. Itu juga bukan dia yang jawab, tapi temennya. Keliatannya dia pemalu, ato emang gak peduli. Sabar yah ndi, cinta memang gila. hahahaha” teman – temannya ikut tertawa sambil menepuk bahu Randi lalu pergi meninggalkannya.


“KKRRRIIIINNNGGGG!!!” bel tanda istirahat berakhir mengingatkan para siswa untuk kembali ke kelasnya masing – masing, bel panjang itu juga yang menjadi musik latar perasaan Randi. Hatinya seperti tidak kuat menggantung. Jatuh seiring dengan sesak yang dia rasakan. Dia tidak menyangka memendam perasaan seperti ini terhadap perempuan yang tidak dikenalnya. Ingin rasanya menangis, tapi rasa malu terhadap teman - temannya membuat dia bisa menahan desakan air matanya. Dia masih bisa bersikap normal sementara itu. Awan gelap yang mengitari hatinya tidak mempengaruh gejolak mudanya untuk tetap menikmati hidup walaupun langit gelap tidak sebentar menaungi jiwanya. Butuh waktu yang lama untuk bisa Randi menerima, bahwa perempuan yang selama ini dia puja, hatinya sudah dimiliki orang lain, jiwa perempuan itu mengagumi sosok selain dirinya.


***


“NURIANTI SANDI” Gemuruh tepuk tangan mengiringi pengumuman yang diucapkan Bapak Kepala Sekolah. Rianti berjalan menuju panggung Pembina upacara, dia hanya bisa tersenyum membalas sambutan teman – teman sekolahnya. Rianti baru saja diumumkan sebagai juara umum semester itu. Dia berdiri di samping Bapak Kepala Sekolah, menghadap teman – temannya selaku peserta upacara. Seluruh mata siswa tertuju padanya, menyiratkan pujian atas keberhasilannya menjadi pelajar teladan. Namun tiba - tiba mata Rianti terhenti pada pandangan seorang laki – laki yang memandangnya datar. Mata itu menggambarkan dinginnya jiwa seorang remaja. Hanya sesaat saja Rianti bisa menatapnya, karena lelaki itu dengan segera memalingkan wajahnya. Itulah mata Randi, yang selama ini mengaguminya. Dan sakit hati karena pernyataannya.


***


***


Rasa kesal, jijik, dan sakit hati masih menghantui perasaan Randi. Dia tidak menyangka kekasihnya akan mengkhianatinya, padahal mereka sudah berencana akan menikah. Randi memergoki Laura - pacarnya berciuman dengan laki – laki lain di sebuah cafĂ© sepulangnya bekerja. Saat itu juga Randi memutuskan mengakhiri hubungannya dengan Laura.


Randi langsung membuka situs jejaring sosial, menenangkan dulu hatinya sebentar. Patah hatinya sedikit banyak membuatnya kehilangan semangat bekerja saat itu. Dia biarkan saja tumpukan kertas yang menunggu untuk dia input ke dalam komputer untuk diolah sebagaimana tugas dia setiap harinya.


“one new friend request” begitu bunyi notifikasi yang muncul di layar komputernya. Randi meng-klik notifikasi tersebut tanpa rasa penasaran sedikitpun. Sebuah permintaan pertemanan adalah hal yang biasa di dunia maya. Randi tidak pernah memiliki ekspektasi sedikitpun tentang siapa yang akan dia jumpai melalui situs pertemanan global tersebut.


Randi terhenyak dengan apa yang dilihatnya. Di layar tertulis “Nurianti Sandi wants to be your friend”. Yang terjadi saat itu telah mengusik keadaan perasaannya. Rasa galau karena patah hati sedikit sirna karena ‘bekas’ idolanya saat remaja meminta pertemanannya di jejaring sosial. Ini permulaan untuk bisa menjalin hubungan pertemanan, atau mungkin lebih. Setidaknya itu yang sempat dipikirkannya. ‘cinta monyet gw balik lagi ni’ pikirnya sambil tersenyum. Randi klik tulisan ‘Confirm Friend Request’ dengan maksud menerima Rianti menjadi kawannya di dunia maya. ‘Nurianti Sandi is now online’ lagi – lagi muncul notifikasi di layar komputernya. Cukup besar untuk membuat Randi menyadari bahwa bisa saja dia mengajak Rianti untuk berbincang – bincang saat itu. Sekali lagi dia tersenyum, entah perasaan bahagia apa yang merasukinya sehingga dia mampu tersenyum saat patah hati.


Randi kali ini tidak bisa menahan dirinya untuk menyapa Rianti melalui internet. Dia arahkan ‘pointer mouse’-nya ke kotak dialog untuk berbincang. Dia berpikir cukup lama saat itu, bingung untuk memulai percakapan itu. Sejak hari dia terpana memandang Rianti hingga 7 Tahun setelah itu dia sama sekali belum pernah berbicara dengannya, berbincang dengan Rianti seperti sebuah mimpi siang bolong bagi Randi yang takut sekali untuk mengungkapkan perasaannya. Tapi Randi sudah cukup dewasa untuk menguasai dirinya dari hal – hal pubertas. Waktu untuknya berpikir cukup lama hingga akhirnya dia bisa mengetik 5 karakter dalam kotak berbincang. “hai..” tulis randi memulai percakapan. “rianti is now typing” muncul keterangan dalam kotak berbincang yang membuat jantung Randi berubah tempo menjadi sedikit terburu – buru.


Rianti : “Hai juga”

Randi : “Apa kabar? Lama gak ketemu.. :)”

Rianti : “Baik kak, memang kita belum pernah bertemu kan? :p kakak sendiri apa kabar?”

Randi : “hehe bener juga..tapi setidaknya kita saling tahu. Kalo gak, gak mungkin kamu add aku. Alhamdulillah aku baik”

Rianti : “iya..aku lihat profil kakak dari Page Alumni SMU 06”

Rianti : “bener kak baik2 aja? Dari status updatenya keliatannya lagi ada masalah ni?”

Randi : “hehehe…biasalah masalah perasaan. Maklum masih ABG :p”

Rianti : “ABG = Anak Berbadan Gede? Hehehe…ngaco deh”


Randi tersenyum sendiri memandang layar komputer. Sesekali dia menyandarkan punggungnya ke belakang sambil tertawa kecil dan menggelengkan kepala. Randi dan Rianti sama2 bisa mencairkan suasana saat itu. Mereka saling berbincang berjauhan sampai hampir lupa waktu, lupa pekerjaan, dan cukup lama untuk membuat mereka sedikit mengenal pribadi masing – masing.


Rianti : “udahlah kak, kalo udah jelas salahnya gak usah dipikirin lagi. Gimana kalo jadi istri? Jadi pacar aja selingkuh. Masa laki – laki patah hati sih?! Hehehe”

Randi : “hahaha..iya deh gak akan. Setidaknya gak sesakit hati dulu zaman SMA :p”

Rianti : “emang kenapa waktu zaman SMA?”

Randi : “gapapa :p”

Rianti : “aneh, ngapain bilang :(“

Randi : “gak enak nyeritainnya”

Rianti : “ya ampun, apa bedanya sama cerita yg ini?”

Randi : “beda lah, tokoh, waktu, sama jalan ceritanya..hehehe”

Rianti : “ya udah kalo gamau cerita, aku gak penasaran amat kok”

Randi : “iya deh diceritain, tapi jangan ketawa ya?”

Rianti : “Okay, :D”

Randi : “jadi dulu waktu SMA, aku pernah suka sama cewe, tapi aku Cuma bisa jadi pengagum rahasia. Eh taunya sama temen2 ketahuan tuh aku suka, iseng dipaksa kenalan. Taunya tuh cewek gak mau kenalan. Katanya dia udah suka sama orang lain. Percaya ato gak, cukup lama aku sakit hati, gak percaya juga umur segitu udah bisa patah hati..hehehe. yah mungkin pengaruh predikat sebagai remaja”

Rianti : “serius kak? Lama sakit hatinya? Berapa dasawarsa? Hehehe. Eh aku kenal gak sama ceweknya?”

Randi : “hmm.. yah berbulan2 lah, saingan sama orang hamil. :D kamu kenal kok sama orangnya. Deket banget sama kamu”

Rianti : “iya. Siapa kak? Kasih tau donk..! aku janji gak bilang siapa2 :p”

Randi : “serius mau tau?”

Rianti : “ih bawel banget, iyah penasaran dan MAU TAU nih!”

Randi : “orang itu namanya Rianti”

Rianti : “hah, kok sama namanya?”

Randi : “ya orangnya juga sama yang itu2 juga”

Rianti : “Maksudnya?”

Randi : “ya Kamu...”

Rianti : “oohh...”


Ada perasaan lega dalam diri Randi, akhirnya dia bisa mengungkapkan rasa kagumnya kepada orang yang selama ini membuatnya terpana. Setidaknya dia tidak terlalu malu, karena masa remaja dan cinta monyet bisa menjadi alasan dia untuk membela diri.


Rianti : “jadi waktu itu tuh kakak?”

Randi : “emangnya si Rieka gak ngasih tahu?”

Rianti : “gak tuh, dia Cuma bilang ke temen aku ada yang ngajak aku kenalan. Aku bilang aja gak mau, soalnya udah ada yang aku suka saat itu”

Randi : “Siapa???”


Randi betul – betul penasaran soal ini, laki – laki mana yang telah membuat masa remajanya kelabu saat itu.


Rianti : “mau tauuu aja :p”

Randi : “pelit!”

Rianti : “hehehe…jangan marah atuh. Kakak juga kenal orangnya kok”

Randi : “wah..masa?!”


Randi mengira mungkin teman sekelasnya, bisa jadi Anwar. Tapi paling mungkin adalah adik kelasnya yang seumur dan seangkatan dengan Rianti


Rianti : “iyah..”

Randi : “terus…siapaaaa?!”

Rianti : “namanya Randi, kakak kelasku yang aku gak tau justru dia yang ngajak kenalan :p”


Randi tidak bisa menyembunyikan rasa geli di wajahnya, dia belum sanggup membalas teks Rianti yang terakhir. Ada sedikit rasa senang di hatinya, selain dia sudah bisa mengungkapkan perasaannya di masa remaja, dia juga tahu bahwa rasa kagumnya saat itu tidak bertepuk sebelah tangan.

Minggu, 18 Juli 2010

Try to draw Michael..but got problem with the Scanner..

Jumat, 16 Juli 2010

Face











































Try to draw my own face... yes, Im an amateur :D

Kamis, 15 Juli 2010

Tak Sedih Melulu

Aku senang saat dimana aku bercanda kau tertawa

Tapi kini aku seperti bicara hanya pada saat diminta

Aku seperti khawatir melakukan hal yang tidak kau suka

Saat aku harus melangkahkan kaki, banyak hal yang menjadi pertimbangan

Lututku gemetaran, gigiku juga, seperti tempat duduk elektrik buat pijit


Aku senang saat aku menggodamu pipimu merona

Aku bilang pipimu seperti apel, kau bilang aku gombal, padahal saat itu aku lapar

Aku khawatir kamu kelelahan, kau bilang aktivitasmu sudah biasa

Kau sudah punya vitamin dan suplemen untuk menjaga kesehatan tubuhmu

Tapi aku tetap khawatir, karena kau tidak pernah berhenti berlari mengitari pikiranku


Kau berlagak kesal dengan tingkahku,

Saat itu kau pukul lenganku sambil tetap tertawa,

Walau saat itu aku kebingungan, lenganku yang kau pukul tapi mengapa hatiku yang terjatuh dari tempatnya?


Sejak aku tahu dirimu, diriku penuh dengan kata – kata

Bagaimana caranya selalu membuatmu tersenyum dan tidak bosan,

Kata – kata itu bersaing dengan tugas kuliah dan kerjaan kantorku berebut tempat di pikiranku

Sayang mereka tak berhasil mendapat bagian, seluruh pikiranku sudah penuh dengan namamu


Kau bilang aku gombal, aku pikir aku gak karuan

Bayangkan dirimu mencoba berdiri diatas kuda yang berlari,

Seperti itu juga aku mencoba tetap bersikap normal saat degup jantungku lebih kencang dari derap kaki kuda

Memang sulit, seperti sulitnya mengira atas apa yang terjadi dengan aliran air hatiku

Mengalir ke danau yang mereka sebut Danau Namamu


Orang bilang aku pintar berpuisi,

Namun dulu itu terjadi saat aku sakit hati

Namun sejak aku kenal dirimu

Kata – kata indah tak harus muncul saat sedih melulu…