Jumat, 11 Februari 2011

What Lost in Life



"This job slowly kills me, bruises that wont heal" - radiohead "No Suprises"

No no no.. stop mengeluh! itu hanyalah petikan lagu tentang bagaimana seseorang yang sedikit tertekan dengan rutinitas yang melandanya. Saya? sedikit memar otak mungkin..hehe. Sudah empat tahun lebih ini saya tidak mengenal yang namanya hari minggu. Sebetulnya yang paling membuat pusing adalah saat pulang kerja, sesampainya di rumah badan lelah tetapi enggan tidur. Karena tidur hanya membuat waktu lebih cepat untuk berangkat bekerja esok paginya.

Rutinitas yang mencekik leher sementara ini tidaklah terlalu buruk, setidaknya itu masih menjadi satu - satunya jalan untuk survive di tempat fana ini. Tapi masalahnya adalah rasa rindu yang melanda kepada orang - orang yang saya rindukan. Semua orang yang pernah saya kenal, semuanya, tanpa terkecuali.

Buruk rasanya jika hanya bisa berkumpul dengan ayah dan ibumu saat kau menjelang tidur dan bangun tidur, bertemu dengan tetanggamu seminggu sekali, dengan kawan dekatmu sebulan sekali, bahkan setahun sekali bertemu dengan sepupumu saat hari raya!

Saya pernah memiliki guru agama, beliau mengajarkan saya dari mulai akhlak hingga masalah hadits sebagai pemecahan masalah. Saat sedang polos - polosnya saya pernah bertanya padanya, "pak ustad. Al Quran kan diciptakan sebelum manusia diciptakan, berarti Firaun dan Abu Jahal sudah ditakdirkan sebagai penjahat donk?". Begini jawaban beliau dengan melampirkan senyum dan tutur kata halus, "Allah selalu serahkan keputusan ya atau tidak kepada hambanya. Ibarat kalkulator, Allah sudah tetapkan bahwa 2 x 2 = 4, 2 x 3 = 6, tapi tetap kita yang memiliki keputusan untuk menekan tombol pada kalkulator. Lagipula Dika, Allah ciptakan akal kita untuk hal hal yang kongkrit, beberapa hal tidak logis hanya untuk menguji kesetiaan kita sebagai hambanya. Akal manusia tidak bisa mencapai bagaimana singgasana Allah dan sistematika Dia mengatur makhluknya, karena itu ada Agama, pedoman kita di atas akal agar tetap di jalan yang lurus". Beliau akhiri kalimatnya dengan senyum. Saya hanya bisa mengangguk hari itu kemudian mengerti hari ini.

Beliau dipanggil Allah SWT pada tanggal 10 Februari 2011, meninggalkan satu istri dan empat anaknya di Indonesia serta satu anak yang paling tua di Mesir. Saya sangat mengagumi ilmunya, tawanya, dan ketegasannya yang benar - benar khas seorang pemuka agama. Bagaimana ramahnya beliau saat ucapkan salam dan menjabat tangan saya saat kami sama - sama berjalan ke mesjid untuk sholat shubuh juga marahnya yang hanya diam jika saya melakukan ibadah tidak seharusnya. Allah telah panggil beliau, seorang yang menghambakan diri untuk Tuhannya. Bahkan karena kesibukan saya untuk dunia, saya tidak bisa melihat wajah teduhnya sebelum dimakamkan. Saat dimana saya sudah mulai kesulitan bangun subuh untuk bisa bertemu di Masjid tempat kami biasa bertemu, saat saya sudah mulai tidak menyempatkan waktu belajar kepadanya untuk beberapa hal agama yang beliau kuasai, saat dimana saya sudah lupa dengan beliau, beliau pergi untuk selamanya dan berita akan kepergiannya lah yang mengingatkan saya kembali.

Sungguh satu hal yang saya rindukan, sebuah silaturahim kepada tiap - tiap manusia yang saya kenal, bahkan mungkin yang tidak saya kenal. Satu hal yang sederhana namun menebarkan cinta kasih, ramah tamah, keakraban, rezeki, kebaikan, dan memanjangkan umur. Satu hal, yang diberikan Tuhan kepada hambaNya untuk mengobati kesepian.

"most people commit suicide when they live their life and problems alone"

Rabu, 09 Februari 2011

Blast From The Past


Sedikit membuka cerita lama tentang hidup saya. Sekarang ini saya bisa tersenyum sembari menggerakan jari di atas papan kunci komputer, dulu rasa sakit akan cerita ini bisa membuat saya termenung melamun tanpa makan seharian. hehe.

Seorang wanita mengirimkan SMS bernuansa patah hati. Saya masih ingat nomor teleponnya walau kontaknya tidak saya simpan di ponsel saya. Saya baca sampai habis, tapi tidak saya balas. Saya pikir itu cuma emosi dia yang entah sampai kapan dia bisa tahan. Saya tidak percaya dengan perkataan orang tentang cinta, apalagi dari seorang yang tidak ada hubungan kekerabatan dan sudah jarang sekali bertegur sapa dengan saya.

Dulu saya dianggap seorang yang over protective kepada pacar saya . Pacar saya pada saat itu (baca : mantan pacar) terpaksa harus kerja di luar kota, otomatis keadaan kita menjadi LDR (Long Distance Relationship). Awalnya dia masih rutin menghubungi saya, seminggu, dua minggu, tiga minggu, dan di minggu ke empat dia sudah jarang sekali SMS. Saya yang hanya menanyakan keadaannya dan memintanya mengabari jika dia terpaksa pulang atau berangkat kerja awal waktu dianggapnya terlalu mengatur. Sampai pada suatu saat kami bertengkar, dan dia meminta putus. Dapat dikatakan hati saya hancur saat itu, dunia terasa sempit, langit runtuh, dan saya kehilangan semangat. Namun saya dan dia masih berhubungan, saya masih rela mengantar - jemputnya ke luar kota dengan kendaraan umum dan kereta antar kota. Saya masih berharap banyak kepadanya, perasaan saya masih penuh terhadap dirinya, walaupun saya harus rela merasakan sesak di dada mengetahui dia dekat dengan laki - laki lain dan menghabiskan waktu dengan laki - laki lain di kota sana, dan meminta saya menjemputnya setiba dirinya di kota ini.

Saat itu tengah malam, saat dimana saya menyadari bahwa dia sudah resmi memiliki laki - laki lain sebagai pacarnya. Satu hal yang dapat membuat saya bertahan adalah karena kalimatnya ini "saya ingin fokus belajar daripada pacaran". Saya pikir masih ada harapan untuk saya bisa kembali bersamanya. Namun, saat mengetahui dia sudah memiliki laki - laki lain, semua kata - kata dia kepada saya, saya anggap omong kosong. Malam itu seperti sebuah titik klimaks yang menggugurkan kesedihan - kesedihan saya. Diri saya sejak itu sepenuhnya milik saya. Saya banyak menghabiskan waktu untuk kuliah dan mencari penghasilan kesana kemari. Saya sudah bisa secara penuh melupakan masa lalu saya. Keluarga yang tulus mengasihi saya dan pekerjaan saya sudah cukup mengambil perhatian saya. Singkat kata, patah hati pada episode itu selesai sudah.

Sudah dua tahun berlalu, mantan saya sudah dua kali pula gonta - ganti pacar. Saya masih ingat waktu itu seorang laki - laki yang mengaku mantannya (pacarnya yang pertama setelah putus dengan saya) mengirimi saya pesan pribadi seperti ini "ternyata si **** tuh brengsek, gw rela berpisah sama dia karena dia bilang cinta sama lu, nyatanya?! dia malah jadian sama cowok laen. emang brengsek tuh cewek" Saya tanggapi pesan dia dengan kata - kata menenangkan sekedarnya, mencoba memberi ketegaran kepada seseorang yang pernah merebut wanita yang pernah saya kasihi. Tak lama kemudian dia membalas, "makasih ya sob, ternyata lu orang baik". Dada ini rasanya sejuk sekali, ada tanggapan positif dari dia. Tak ada hal yang lebih indah selain bertambah teman, dan kesempitan dunia tercipta hanya jika kita memiliki musuh.

Selama dua tahun pula mantan saya yang pernah meninggalkan saya kembali berusaha mendekati saya. Saya ingat dua kalimat pertanyaan dia saat saya sudah secara penuh melupakan dia. pertama dia bertanya kira - kira seperti ini "masih adakah kesempatan untuk diriku kembali bersamamu?" tentu saja saya jawab "tidak". Kedua kali dia bertanya, "kak, (panggilannya kepadaku saat itu) kalau masih ada aku sedikit saja di hati kakak, beri aku lagi kesempatan" Jawaban saya saat itu "tidak ada".

SMS semalam yang berisi pujian kepada saya tidak saya gubris. Saya sudah mempersiapkan diri saya untuk hal yang lebih kongkrit, bermanfaat, dan tidak sia - sia. Toh saya menyadari, wanita yang sudah saya temukan sekarang adalah pantas untuk mendampingi saya. Saya sudah menaruh harapan kepada dirinya, sang wanita baru. Nama yang baru yang saya sebut dalam doa kepada Sang Maha Mendengar. Kawan saya disana, yang mengirimi pujian kepada saya. Ketahuilah, perasaan dan kepercayaan seperti kertas, sekali dia kusut, tidak akan pernah bisa kembali seperti semula. Belajarlah berpikir daripada mengandalkan emosi. Perasaan yang kamu punya, dimiliki juga oleh orang lain. Saya, hanya berusaha diingat sebagai seorang yang baik, hingga kamu dan saya tak sanggup lagi mengingat...sedikitpun..apapun.

"If a person died, nothing left in this world from him except - his virtue"

Selasa, 08 Februari 2011

Words And Symphony

"Dear Inspiration, yes I can't just wait you to come, but please dont hide if I tried to chase you up"

Beberapa penulis lagu atau musisi lainnya beranggapan bahwa umumnya lagu yang bagus dan menyentuh dilahirkan dari dua peristiwa, pertama : Sakit hati, Kedua : Selingkuh. Percaya atau tidak begitulah fenomena yang terjadi sekarang, misalnya lagu Ungu "Demi Waktu" yang booming berkisah tentang selingkuh, Lagu d'Massive "Cinta ini Membunuhku" berkisah tentang patah hati. Masih banyak lagu2 lainnya yang terkenal di kuping musisi, penikmat musik, dan orang awam berkenaan dengan dua masalah di atas. Karena itulah beberapa wanita berpikir, "jangan mencari pendamping seorang penulis lagu, jika bukan karena patah hati mereka harus selingkuh untuk berkarya" haha. Gak sepenuhnya begitu lho.

Well yang jelas umumnya lagu itu diciptakan dengan gejolak perasaan. Entah itu sedih, gembira, marah, kesal, dendam, dan lain - lain yang berbicara tentang emosi. Sulit menghasilkan lagu jika diciptakan hanya dengan perhitungan notasi, matematika (jika bisa), dan atau kalkulasi (jika bisa juga :p) untuk menghasilkan sebuah lagu yang katanya mempunyai "jiwa". Karena percayalah, sebuah hal yang dihasilkan oleh suara dari mulut dapat didengar oleh telinga, dari otak sampai di pikiran, dari hati ya sampai ke hati. Sepertinya mustahil, tidak. Bagaimana perasaan anda saat mendengar lagu Eric Clapton "tears in heaven" merinding? Lagu itu beliau ciptakan untuk mendiang anaknya. Tentu saja, getar hati seorang ayah sampai kepada hati pendengarnya.

Sekalipun hati berperan untuk menghasilkan sebuah karya seni, tuntutan otak, tangan, mata, mulut, telinga untuk bekerja haruslah ada. Tidak mungkin saat anda merasa jatuh cinta, dengan hanya diam dan tersenyum bisa menghasilkan sebuah lagu. Lagu, musik, dan nada adalah sebuah karya seni, bukan aliran kebatinan yang bisa sampai tanpa melakukan usaha.

Hal yang umumnya saya lakukan dalam menciptakan sebuah lagu adalah dengan inspirasi. Biasanya saat hidup kita dalam kedaan steady, monoton, stabil, sulit untuk menghasilkan sebuah karya karena tidak ada gejolak emosi yang mendorong kita menghasilkan sesuatu yang indah. Tapi, tidak pernah ada jalan buntu untuk menghasilkan sesuatu yang apalagi sudah menjadi hobby. Percayalah, bahkan emosi pun bisa dibuat, walau hanya sesaat. Pernahkah anda menangis saat menyaksikan film drama? itulah gejolak emosi temporer anda. Tahu Lagu Michael Heart "We will not go down" ? lagu yang dia ciptakan setelah melihat keadaan di Gaza. Atau lagu "They Dont care about us"-nya Michael Jackson. Semua terjadi karena gejolak perasaan sementara setelah menyaksikan sesuatu. Singkat kata, jangan menciptakan lagu hanya tentang cerita diri sendiri (curhat), anda bisa mati inspirasi jika hidup anda tidak terlalu dramatis. hehe.

Tontonlah film yang kira2 memberi anda gejolak perasaan yang baru. Saya pernah menciptakan sebuah lagu tentang kedermawanan hanya karena melihat film drama tentang seorang anak kecil yang berjuang untuk bertahan hidup. Hmm, jadi ingat "si Budi kecil" karya Bang Iwan. Sudah mendapat perasaannya, tentukan tema lagunya, jangan dulu judulnya. Yang penting liriknya kuat dan notasinya. Cari inspirasi dari banyak lagu dalam maupun luar negeri, setidaknya anda sudah tau akan seperti apa aransemen lagu anda kedepannya.

Kesalahan beberapa musisi adalah kadang lagu lebih terkesan plagiat daripada terinspirasi. Sedikit tips dari saya agar terhindar dari plagiarisme. Pertama, pastikan nada kunci / grip yang anda buat adalah karangan sendiri. Beberapa orang membuat lirik terlebih dahulu, ini sah - sah saja dilakukan, namun saya sendiri biasanya lebih dulu menentukan nada kunci. Jika tidak bisa, dapat juga mengambil beberapa nada kunci dari lagu yang sudah ada, tapi ingat BEBERAPA, bukan keseluruhan nada, bisa - bisa anda terjebak plagiarisme jika meniru keseluruhan. Kedua, Ketika kunci sudah ditentukan, anda pilih lirik lagu yang kira - kira sesuai dengan karakter lagu yang anda inginkan, kemudian nyanyikan lirik tersebut dengan kunci yang baru. Biasanya dengan tehnik ini akan tercipta sebuah nada baru yang lebih mudah diingat, dibanding anda meraba - raba dengan bersenandung "na na na". Ketiga, pastikan nada baru yang didapat anda rekam. Keempat, setelah ditemukan paten nada yang tetap, ganti liriknya dengan lirik baru yang anda dapat melalui imajinasi otak anda beserta gejolak emosi yang sedang anda rasakan. Sisanya, tinggal aransemen sesuai keinginan anda. Menciptakan lagu tidak harus selalu komersil, yang penting anda menikmatinya dan ada orang yang mengapresiasi. Seperti halnya melukis, kadang harus juga menggunakan imajinasi daripada selalu menggambar foto atau potret. Hasil lukisan yang dibuat pun tidak harus selalu dijual kan?

Membuat lagu itu mudah, asal anda tau syaratnya yaitu ; pertama, mengerti nada, baik bisa menyanyi atau tidak, dan kedua bisa memainkan minimal satu instrumen musik. Well, ciptakan nada sendiri, tenggelam dalam imajinasi dan dunia yang anda buat sendiri. Siapa tau memotivasi hidup anda dan mengontrol emosi anda. :)

"When you get music and words together, that can be a very powerful thing" - Bryan Ferry

Rabu, 02 Februari 2011

What Could Feed Your Heart




Selangkah lagi menuju ke sebuah segmen kehidupan yang baru, yaitu sarjana. Tinggal menunggu waktu, jika tidak ada halangan usaha untuk belajar menghadapi selaput terakhir jenjang pendidikan S1 ini tidaklah menjadi sia - sia. Setidaknya, Ekonomi, sebagai suatu mata pelajaran yang gw senangi bisa diselesaikan sesuai dengan harapan diri gw dan orang tua. Setidaknya perjalanan 4 tahun lebih bergerak dari rumah-kampus-kantor-rumah bukanlah menjadi kegiatan yang tiada artinya.

Manusia, dengan segala keterbatasannya, tidak disalahkan bermimpi, bercita -cita. Begitupun gw, sebagai seorang calon sarjana, mimpi gw lebih dari itu, tapi ya namanya manusia yang penuh dengan keterbatasan.

Gw lahir bisa dibilang dari darah daging seorang seniman. Kakek gw pernah menjadi seorang penulis, ahli sastra sunda dan belanda pada zamannya. Ayah gw seorang pelukis dan penyanyi. Dan gw, hobi melukis dan menyanyi juga. Gw gak bilang gw hebat dalam hal itu, terkadang seorang yang mendalami sesuatu secara otodidak dan sporadis (ini dilakoni itu dilakoni) tidaklah menjadi total dalam suatu hal. Seperti gw yang bisa menggambar yah segitunya, bisa menyanyi ya segitunya, bisa maen gitar ya segitunya, dan bisa maen piano ya segitunya (sangat buruk sekali tepatnya).

Harusnya masuk ke IKJ bukan? kenapa juga harus Fakultas Ekonomi? Entah apakah ada orang lain yang berpikir sama, kalau hidup jika ingin survive harus menyiapkan banyak senjata. Ada senapan, panah, pisau, dan tali. Seperti gw yang punya hobi di seni ini, belajar manajemen, dan sempat bekerja sebagai akuntan. Beberapa orang berkata bahwa hal seperti itu terlalu bersifat ambisius, mungkin, bisa jadi. Perkataan seorang ibu mengingatkan gw seperti apa yang Robin Sharma pernah bilang "bekerjalah dalam suatu bidang dimana orang menganggapmu brillian".

Kesibukan mengurus skripsi dan ujian komprehensif beserta pekerjaan di atas meja kantor yang tidak pernah habis menyingkirkan kesempatan gw mengasah kemampuan bermusik gw. Pernah beberapa orang memuji lagu yang gw ciptakan, bagus, easy listening, berkelas, dan bla bla lainnya, bahkan beberapa orang pernah menawarkan untuk memberi modal latihan dan rekaman untuk bisa dijual dalam format Ring Back Tone. Tapi semua itu hanyalah angin semu, kesibukan semua personil memupuskan itu semua. Seseorang yang pernah menawarkan modal itu akhirnya berkata "uangnya sudah saya gunakan untuk band "anu" yang udah siap tampil" oh gosh I miss my guitar.

Lebay memang, bukan hanya saya sendiri yang memiliki mimpi seperti ini, dan saya percaya, tidak ada mimpi seseorang yang picisan. Bahkan ada yang berharap (hanya) menjadi seorang tukang sapu jalan raya karena idealisme-nya menciptakan lingkungan yang bersih. Bukan harta memang, tapi ada hal abstrak yang sulit diraih. Saya bisa dapatkan dengan usaha sungguh2 apa yang saya ingin atau butuhkan. Itulah kekuatan uang. Tapi sepertinya ada hal yang masih membuat gundah, dan hanya gitar, pensil, (dan skateboard) yang bisa memberi saya ketenangan. Dear God, you know even better if money can't buy happiness.

(Number printed on money shows amount of gold, not amount of happiness)