Sabtu, 11 Agustus 2012

Kosong

Selamat siang pemuda yang hidup dengan ambisinya

Mengerti mengambil jalan namun masih belum paham dengan langkahnya

Lembaran – lembaran angka yang tidak memuaskan dahaga

Bukan juga kilauan mesra lampu – lampu teknologi


Selamat siang pemuda yang bersandar dengan ambisinya

Kemana tentukan cita – cita ke arah yang lain perjuangannya

Berharap apa dalam simpuhnya bekerja yang lain dalam usahanya

Apakah sama nilai setiap perbuatan yang dilakukan dulu dan sekarang


Selamat siang pemuda yang berjalan dengan obsesinya

Senyum sementara karena pencapaianmu sekarang kernyit dahimu merindukan masa lalu

Selamat siang pemuda yang berjuang keras demi cita – citanya

Mengandalkan segala kalkulasi lupa akan esensi berdoa


Selamat siang pemuda yang berhati teguh

Jangan salah arahkan wajah, hadapkan hati pada kebenaran

Kesalahan yang menjadikan tiap – tiap diri layaknya mayat hidup

Badan tetap bergerak namun jiwa meredup


Oh Zat yang jiwaku ada dalam genggaman-Nya

Jangan biarkan hamba salah mencari solusi

Gundah gelisah tidak lekas hilang

Belajar berhenti menyalahkan keadaan memberikan kesempatan pada hati

Mencari kenyamanan yang hakiki, sendiri

Kamis, 12 Juli 2012

Too Much Pride, I mean Laziness Will Kill You


Hai Blog apa kabar? Sebetulnya agak sedikit mencuri -  curi waktu juga sih menulis ini ya tapi gak apa -  setidaknya ini sebagai bagian untuk saya agar bisa sedikit memahami perjalanan kehidupan, bukan ini bukan sebuah postingan galau tapi ini bisa dibilang sedikit serius, walaupun untuk para tentara di medan perang sana hal yang serius hanyalah hidup, mati, dan amunisi.

Akhir – akhir ini saya dilanda penyakit malas, sangat malas yang bahkan saya sendiri sangat benci pada diri sendiri. Aneh memang bagaimana sebuah keputusan sendiri yang diambil secara sadar dan sehat wal afiat bisa menimbulkan penyesalan. Contoh kecilnya adalah bangun siang, ya “5 menit lagi” atau “tidur sebentar saja setelah ibadah shubuh” kemudian berangkat kantor kesiangan, itu benar – benar membuat kesal. Kebencian saya kepada diri sendiri (baca : malas) bukan tanpa alasan, selain hal kecil yang sudah saya ceritakan di atas, beberapa hal benar – benar memukul diri saya, keras sekali, hingga lebam, pikiran saya yang lebam.

Bulan lalu pertama kalinya saya menyelenggarakan kompetisi sendiri, bukan sendirian namun saya sebagai penanggung jawab yang sebelumnya saya hanya sebagai pelaksana yang melakukan pekerjaan sesuai instruksi dari atasan. Kali ini lain, saya harus mengatur dan mengolah segala persiapannya, persiapan untuk sebuah event berskala Nasional. Okay mari kita lupakan masalah skala kegiatan tersebut, bukan itu yang mau saya angkat tapi masalah manajemen diri saya dan penerapannya pada kegiatan tersebut. Entah kenapa profit dari event tersebut seperti paku yang tertancap dalam di dahi saya pikiran saya semata – mata tentang profit membuat saya jadi sedikit pelit, saya terlalu arogan hingga merasa saya bisa melakukan semuanya sendiri. Hal ini lah yang membuat saya tidak mencari orang lain untuk masuk ke dalam tim dan menambah beban pekerjaan saya, alih – alih hemat biaya saya malahan keteteran. Selain masalah profit masalah kepercayaan juga melanda saya, bukanlah kepercayaan saya kepada Allah Tuhan semesta alam, namun kepercayaan saya kepada staff saya. Bukannya saya berikan ilmu kepada mereka agar bisa membantu saya, saya malah berusaha mengerjakan semuanya sendiri, semuanya hampir tanpa terkecuali. Alhasil, event saya hanya berhasil 50%, walaupun pujian yang datang tidak sedikit, saya hanya bisa berdiri termangu menyesal dengan tersenyum kecut. Jabatan tangan dan pujian tidak sedikitpun menyembuhkan penyesalan saya, karena saya mengerti bahwa ini bukan yang terbaik, dibalik itu masih banyak keluhan yang menyatakan bahwa kegiatan ini tidak sepenuhnya berhasil.

Aneh, sekali lagi aneh. Pada awalnya saya bicara malas kenapa cerita tentang kompetisi tersebut saya kelihatannya rajin sekali? Yup, itu adalah sebuah excitement untuk pengakuan diri bahwa saya bisa, saya bisa menghasilkan profit yang besar tetapi tidak didukung dengan persiapan yang matang, setidaknya jika saya bukanlah seorang yang malas saya akan habiskan waktu untuk membuat anggaran yang lebih matang dan melatih staff saya agar saya bisa lebih memiliki kepercayaan kepada mereka.

Itu satu hal yang membosankan yang membuat saya bisa melihat lebih dalam terhadap apa yang sebetulnya harus saya lakukan? Saya seorang lulusan Fakultas Ekonomi yang memiliki bakat di bidang seni music dan rupa kemudian terjebak dalam usaha jasa. Itulah kesalahannya, saya merasa bahwa saya secara terpaksa harus bekerja seperti sekarang. Sialan memang, manusia dilahirkan dengan sifat alami yaitu gemar mengeluh. Tidak percaya? Silahkan lihat garis waktu Facebook dan Twitter anda, berapa persen dari status update tersebut menyiratkan keluhan? Kita mungkin salah satunya iya bukan?

Rasa malas saya sepertinya telah menemukan ujungnya, walaupun saya tidak bisa menjamin seratus persen karena manusia adalah gudangnya lupa, lupa bersyukur saat mengalami kesenangan dan penyesalan hanya hadir di saat mengalami kesulitan. Lebamnya semakin biru, membuat saya sadar bahwa semua kegagalan yang hadir bukan karena orang lain atau situasi, tp karena diri sendiri. Saya menantang kepada semua orang yang membaca blog ini, berapa persen kegagalan hidup anda diakibatkan bukan karena diri sendiri? Tidak lulus apakah karena soal ujiannya terlalu susah? Salah pemerintah atau sekolah kah? Atau kita yang malas untuk belajar? Atau belajar tapi kurang tekun? Kegagalan bukanlah suatu hal yang tabu dan dilarang, namun usahakanlah apabila memang kegagalan harus terjadi upaya yang dilakukan sebelum mengalami kegagalan haruslah sebuah upaya / perjuangan yang maksimal.

Ah saya masih saja mengeluh, iya terkadang padahal itu adalah salah satu faktor yang membuat kita malas dan tidak bergairah. Mengeluh berarti pesimis, mengeluh bukanlah usaha memperbaiki masalah. Karena ketika masalah itu hadir, kita tahu gap apa yang hadir di antar realita dan harapan, kita tahu solusi apa yang bisa kita dapatkan. Jika tidak tahu, berdoalah, bagaimanapun mengeluh tidak punya derajat apapun dalam menyelesaikan masalah.

Gambar Hanya Ilustrasi
Barusan dalam perjalanan ke kantor, saya mampir ke tukang bensin eceran karena melalui jalan desa yang tidak ada SPBU. Penjualnya anak kecil, kira – kira umurnya 8 tahun, seusia dengan keponakan saya. Wajahnya cantik namun kotor penuh debu dan oli. Tangan kecilnya meraih botol besar berisi bensin dan dengan susah payah menuangkannya ke atas tangki motor saya. Saya tidak bisa menahan diri untuk tidak bertanya “adik sekolah?” , “iya” jawabnya singkat. Alhamdulillah, dia masih bisa mengenyam pendidikan. Sembari pergi saya berucap “sukses ya dik, yang rajin sekolahnya” si adik tersenyum dengan kaku, mungkin malu karena tidak kenal saya.

Ya Allah, seandainya hidup ini bisa menggunakan “cheat code” layaknya permainan di Game Console, saya akan buat stamina, kreatifitas, dan sifat rajin saya “unlimited”.
“Allahumma ‘aini ‘alaa dzikrika wa syukrika wa husni ibadatika”
-ya Allah tolonglah saya untuk bisa selalu mengingatmu, bersyukur kepadamu, dan memperbaiki ibadahku- Amiin

Minggu, 13 Mei 2012

Bantal yg terendam

Beberapa tulisan sulit untuk dimulai, sebuah imajinasi bahkan lebih mudah untuk diciptakan daripada sebuah ungkapan emosi.

Teman, kadang kita merasa bahwa hidup kita sendiri sangat penuh problema namun ketika melihat sisi lain dunia masih ada manusia yang terpuruk jauh daripada kita. Dalam sebuah bingkai bersyukur, pantaskah kita untuk menangisi masalah kita? Namun jika begitu keadaanya, apakah kita tidak memiliki hak untuk menangis atas kesulitan yg membebani pikiran dan perasaan kita?

Untuk apa Tuhan ciptakan air mata jika manusia harus merasa berdosa saat menangis? Ketika runtutan kesedihan melanda haruskah menangis menjadi sebuah hal yang membuat masing - masing merasa bersalah karena takut menjadi kufur?

Mungkinkah rasa bersalah itu muncul bukan karena tangisan itu sendiri? Melainkan salah tempat untuk mengadu
Powered by WikiBerry®