Minggu, 13 Mei 2012

Bantal yg terendam

Beberapa tulisan sulit untuk dimulai, sebuah imajinasi bahkan lebih mudah untuk diciptakan daripada sebuah ungkapan emosi.

Teman, kadang kita merasa bahwa hidup kita sendiri sangat penuh problema namun ketika melihat sisi lain dunia masih ada manusia yang terpuruk jauh daripada kita. Dalam sebuah bingkai bersyukur, pantaskah kita untuk menangisi masalah kita? Namun jika begitu keadaanya, apakah kita tidak memiliki hak untuk menangis atas kesulitan yg membebani pikiran dan perasaan kita?

Untuk apa Tuhan ciptakan air mata jika manusia harus merasa berdosa saat menangis? Ketika runtutan kesedihan melanda haruskah menangis menjadi sebuah hal yang membuat masing - masing merasa bersalah karena takut menjadi kufur?

Mungkinkah rasa bersalah itu muncul bukan karena tangisan itu sendiri? Melainkan salah tempat untuk mengadu
Powered by WikiBerry®