Kamis, 18 Juli 2013

Air Biru Kehidupan

Ketika kita mengeluh dengan kondisi kita sekarang, mungkin jutaan orang di belahan bumi lain menginginkan posisi kita di saat ini. Namun apabila kita bertukar tempat apakah benar masing - masing dari kita tak akan mengeluh lagi?

Keikhlasan itu kadang jauh tersembunyi dan sulit dicari bukan hanya ketika keluhan datang meresap ke pikiran kita layaknya ular melata ke dalam semak - semak, namun ketika kita mengalami masalah yang memang butuh waktu dan pikiran untuk solusinya.

Sekarang saya rasanya ingin berbagi sesuatu, tapi tahukah kawan emosi menurunkan kecerdasan seseorang? Mungkin itu yg sedang saya alami sekarang. Memilah kata untuk ditulis saja rasanya seperti lebih sulit daripada melepas beras dari gabahnya.

Kehidupan ini layaknya lautan kita arungi sendirian. Sedangkan orang - orang yang datang dan pergi seperti pengguna perahu yang kita temui di permukaan. Beberapa dari mereka mempersilahkan menumpang, sedangkan beberapa orang lainnya hanya melemparkan ban bekas untuk sekedar meringankan beban kita, bahkan ada yang lebih ingin melihat kita tenggelam. Siapa yang tahu? Kita terlahir sendiri dan mati juga sendiri, mungkin beruntunglah yang terlahir kembar. Setidaknya walau di rahim mereka belum tentu saling mengenal, mereka bisa sama - sama menangis saat pertama kali melihat kengerian dunia.

Berulang kali harapan melihat daratan hinggap di kepala saat kita tengah berenang. Beberapa perahu bilang, "kami sudah kelebihan muatan, silahkan kamu kembali ke lautanmu lagi" saat itulah manusia datang dan pergi, kita bertemu atau memang sengaja menghampiri. Hei, bukan tidak mungkin kan membangun perahu sendiri, tapi layaknya mimpi dalam tidur pernahkan kita ingat dari daratan mana kita mulai melompat ke laut? Atau kapal pesiar mana yang kita telantarkan tenggelam bersama awak - awak yang mungkin dulu kita kenal. Saat kita membuka mata, kita sudah berenang. Awalnya panik, namun waktu juga yang meyakinkan kita untuk tenang dan tidak menyerah.

Bukan sekali dua kali kita berkeinginan membuat perahu sendiri, mengajak orang - orang yang susah payah arungi samudera kehidupan telanjang dada, kedinginan, dan membiarkan kulitnya basah hingga keriput. Tapi apakah ada toko kayu mengapung di atas air? Sisa - sisa besi karam ada di dasar laut namun terkadang kita enggan menyelam hanya karena takut melepas rompi udara yang memaksa kita mengapung di permukaan.

Saya hanya ingin bertanya, apakah salah kita berhenti berenang? Merenung sebentar atau sekedar berharap hanyut dan menyerah kepada arus kemanapun kita membawanya? Daripada terus susah payah memaksa otot memacu kita kepada mercusuar yang sudah sejak tahunan lalu menjadi tujuan kita?

Sekarang rompi itu sudah saya lepas, saya tenggelamkan badan saya sedikit karena keindahan terumbu tidak jelas terlihat dari permukaan. Ikan - ikan warna warni pun tidak senantiasa melompat ke udara walau hanya sekedar pamer kecantikkannya.

Namun salah juga terlalu lama menyelam, tanpa disadari permukaan lautan sudah berminyak karena tanker bermuatan minyak bumi bocor mencemarkan laut kehidupan. Kita tak mungkin kembali ke atas. Mungkin di sisa waktu saya, kita, dan kalian, hanya bisa tetap menikmati terumbu sedikit di bawah permukaan hingga saatnya kita kehabisan napas tanpa bisa kembali menghirupnya di permukaan.

***
Hal yang perlu disyukuri dalam hidup adalah ditakdirkan hidup -Anonymous
Sent from my BlackBerry® 10™

Tidak ada komentar:

Posting Komentar